Kisah Hapu Ammah, Sang Perjuangan Melawan Penyakit yang "Sudah Hilang" di Sumba

Dari Sumba untuk Dunia: Kisah Mas Hapu dan Perjuangan Melawan Penyakit yang "Sudah Hilang"
Sumber Foto : LPDP

Bayangkan sebuah pulau yang disebut-sebut majalah internasional sebagai salah satu pulau terindah di dunia. Resortnya dinobatkan sebagai The Best Resort in the World versi Travel and Leisure. Turis datang dari berbagai penjuru bumi untuk menikmati pantainya.

Itulah Sumba. Tapi di balik keindahan itu, ada cerita lain yang jarang masuk feed Instagram.

Di pelosok-pelosoknya, orang kesulitan cek tekanan darah. Menimbang balita saja susah. Malaria masih merajalela, Sumba menyumbang kasus malaria tertinggi kedua di Indonesia setelah Papua. Di Sumba Barat Daya, hampir 2.000 kasus tercatat di tahun 2025.

Dan yang paling bikin geleng-geleng: kusta. Penyakit yang katanya "sudah hilang" dari Indonesia sejak deklarasi WHO tahun 2000 itu, ternyata masih ada. Bersembunyi. Menular diam-diam.

Sosok di Balik Cerita

Hapu Ammah, begitu ia biasa disapa, bukan tipe orang yang duduk di belakang meja sambil ngobrol soal teori. Perawat sekaligus praktisi kesehatan masyarakat ini sudah lebih dari 15 tahun turun langsung ke lapangan di Sumba. Ia alumni LPDP PK-203, lanjut kuliah Master of Public Health di University of Melbourne, dan sekarang jadi Malaria Program Officer di The Sumba Foundation.

The Sumba Foundation sendiri bukan organisasi kemarin sore. Berdiri sejak 2001, mereka mengelola 5 klinik malaria gratis di desa-desa pelosok. Setiap tahun, lebih dari 50.000 pasien dilayani, tanpa bayar sepeser pun.

Hasilnya? Kasus malaria di wilayah kerja mereka turun 94%.

Trik-Trik Cerdik dari Lapangan

Yang menarik dari cerita Hapu adalah bagaimana solusi-solusi sederhana justru jadi kunci.

Soal kelambu, misalnya. Program pemerintah bagi-bagi kelambu berinsektisida. Tapi warga Sumba punya kebiasaan unik: saat musim bercocok tanam, mereka nggak tidur di rumah utama, tapi di rumah kebun. Kalau kelambunya cuma dikasih ke rumah kampung, ya nggak kepakai. Tim The Sumba Foundation pun menyesuaikan, kelambu disebar ke tempat tidur aktual warga.

Soal jemput bola, tim kesehatan mendatangi langsung kelompok rentan, bayi, balita, ibu hamil, lansia, di wilayah terisolasi. Namanya active case finding. Tujuannya satu: memutus rantai penularan.

Soal pelatihan, tahun 2010 mereka mendirikan Malaria Microscopy Training Center dengan dukungan hibah Goldman Sachs. Sampai sekarang, lebih dari 600 tenaga kesehatan dari NTT sampai Papua sudah dilatih untuk sertifikasi diagnosis mikroskopis standar WHO.

Ketika WhatsApp Jadi Alat Medis

Ini bagian yang bikin saya mikir: teknologi canggih belum tentu solusinya. Kadang yang dibutuhkan justru yang sederhana.

Di Sumba, nggak ada dokter spesialis kulit. Perawat dan dokter umum sering salah diagnosis penyakit kulit. Padahal, 15% kunjungan pasien di klinik adalah masalah kulit.

Tahun 2020, The Sumba Foundation berkolaborasi dengan PERDOSKI UGM dan OUCRU UI Jakarta meluncurkan teledermatologi berbasis WhatsApp. Perawat dilatih 3 hari untuk memotret kelainan kulit secara terstandar, lalu konsultasi jarak jauh dengan spesialis.

Hasilnya? Antara 2018-2019, data resmi pemerintah mencatat hanya 2 kasus baru kusta. Setelah teledermatologi jalan (2020-2024), ditemukan 60 kasus kusta, 52 di antaranya kasus baru. Dua puluh orang sudah mengalami disabilitas. Lima kasus pada anak-anak, yang artinya ada penularan aktif di komunitas.

Kenapa ini bisa terjadi? Karena setelah WHO mendeklarasikan Indonesia "bebas kusta" tahun 2000, anggaran, pelatihan, dan prioritas program kusta turun drastis. Padahal kusta punya masa inkubasi 8-10 tahun. Sekarang The Sumba Foundation bersiap membuka Leprosy Training Center pertama di Sumba, lagi-lagi bersama Oxford University.

Pelajaran untuk Generasi Muda

Dari perjalanannya,  Hapu membagikan beberapa prinsip yang menurut saya relevan buat siapa pun yang ingin berkontribusi:

Pertama, adaptasi, bukan adopsi. Solusi global nggak bisa ditelan mentah-mentah. Harus disesuaikan dengan realita, budaya, dan sumber daya lokal. Memaksa teknologi diagnostik canggih tanpa infrastruktur dasar? Nggak akan jalan.

Kedua, teknologi sederhana bisa berdampak luas. WhatsApp untuk teledermatologi? That's it. Teknologi bernilai tinggi adalah yang mengurangi kesenjangan akses, bukan yang paling canggih.

Ketiga, bawa pengalaman daerah ke panggung global. Hapu pernah memaparkan inovasi Sumba di Rotary Club Melbourne. Persoalan lokal bisa jadi diskursus global.

Keempat, tanggung jawab alumni. Beasiswa LPDP memberi akses, jejaring, dan fasilitas global. Tapi ada tanggung jawab besar: kembali dan memberi dampak nyata.

Tanya Jawab yang Menarik

Sesi tanya jawabnya juga seru. Ada yang tanya soal malaria berulang pada ibu hamil di Papua, resistensi guru dan orang tua di daerah terpencil, sampai adaptasi telemedisin untuk penyakit jantung.

Dari jawaban-jawaban Hapu, ada benang merah yang konsisten: pahami kultur, jangan menghakimi, rangkul tokoh lokal, dan bangun kolaborasi lintas sektor.

Soal rumah panggung yang jadi sarang nyamuk? Jangan dilarang. Itu kearifan lokal. Intervensinya fokus pada penjangkauan aktif dan penelitian obat yang lebih singkat, dari 14 hari jadi 7 atau bahkan 1 hari.

Soal guru yang resisten? Pahami dulu kulturalnya. Rangkul tokoh adat, agama, dan pemimpin lokal. Tunjukkan bahwa inovasi disesuaikan dengan kebutuhan dan fasilitas lokal, tanpa merusak kebiasaan baik yang sudah ada.

Kemudian sesi ditutup dengan pesan reflektif dari Hapu: transformasi tidak terjadi instan. Ia terbentuk dari langkah-langkah kecil yang konsisten, berkesinambungan, dan progresif.

Kisah Sumba mengingatkan kita bahwa kontribusi alumni bukan soal jabatan atau gelar. Tapi soal menggunakan keahlian, jejaring, dan empati sosial untuk menjadi bagian dari solusi, di mana pun kita berada.

Dan kadang, solusinya cukup sederhana: sebuah WhatsApp, sebuah kelambu di tempat yang tepat, dan keberanian untuk turun ke lapangan.

Laura Tabita Sobuber 
Catatan dari sesi PK-283 Bumi Gantari, Hari ke-4