Dari Teori ke Data, Cara Cerdas Endah Murwani Mengukur Perilaku Konsumtif dan Mediator

Dari Teori ke Data, Cara Cerdas Endah Murwani Mengukur Perilaku Konsumtif dan Mediatornya

Dalam mata kuliah Quantitative Communication Research Methods di Universitas Multimedia Nusantara (UMN) oleh Dr. Endah Murwani, M. Si, salah satu tahap yang paling menantang bagi mahasiswa adalah saat harus menerjemahkan ide penelitian yang masih abstrak menjadi model yang bisa diuji secara statistik. Salah satu contohnya adalah penelitian yang ingin melihat bagaimana paparan influencer di media sosial dapat memengaruhi perilaku konsumsi yang tidak berkelanjutan.

Secara logis, kita tidak bisa langsung mengukur perasaan atau perilaku begitu saja. Diperlukan jembatan yang menghubungkan teori, konsep, variabel, hingga skala pengukuran. Berikut adalah penjelasan santai namun tetap logis mengenai alur tersebut.

Pertama, merumuskan kerangka teori dan hipotesis. Langkah awal dalam penelitian eksplanatif adalah menyusun kerangka teori atau theorizing. Ini bukan sekadar menghafal teori, melainkan menyusun penjelasan teoretis tentang mengapa suatu fenomena sosial bisa terjadi. Teori ini berfungsi untuk memprediksi akibat dari suatu perlakuan dan menghasilkan hipotesis teoritis, yaitu jawaban sementara yang nantinya harus diuji secara empiris.

Hipotesis ini kemudian diturunkan menjadi hipotesis riset yang lebih konkret dan bisa diukur. Di sinilah kita mulai berurusan dengan konsep sebagai definisi abstrak dan variabel sebagai konsep yang sudah bisa diamati dan diukur. Misalnya, perilaku konsumtif diubah menjadi variabel yang memiliki variasi nilai, seperti skor atau angka.

Kedua, cerita di balik layar saat memilih tiga mediator. Dalam sesi konsultasi, seorang mahasiswa bernama Seren mengajukan model penelitiannya yang cukup ambisius. Variabel independennya adalah social media influencer exposure. Variabel dependennya adalah unsustainable consumption behavior. Sementara itu, ada tiga mediator yang diajukan, yaitu FoMO, social comparison, dan impulsive buying.

Pertanyaannya, apakah boleh menggunakan tiga mediator sekaligus. Dr. Endah menjawab tegas bahwa itu boleh, tapi dengan syarat ketat. Pertama, peneliti harus punya argumen teoritis yang kuat. Kita harus bisa menjelaskan mengapa paparan influencer tidak bisa langsung memengaruhi perilaku konsumtif tanpa melewati ketiga mediator tersebut. Kedua, peneliti harus menentukan sifat hubungan ketiga mediator itu, apakah serial atau paralel. Ketiga, nanti setelah data terkumpul, uji statistik yang akan membuktikan apakah peran mediatornya bersifat full mediation atau partial mediation.

Ketiga, alat ukur berupa pemilihan skala yang tepat. Setelah variabel jelas, langkah selanjutnya adalah menyusun kuesioner. Dalam penelitian komunikasi kuantitatif, ada empat skala pengukuran utama yang umum digunakan.

Skala Likert adalah skala yang paling umum. Responden diminta memilih dari sangat setuju hingga sangat tidak setuju. Skala ini cocok untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi.

Skala Perbedaan Semantik atau Semantic Differential menggunakan dua kata sifat yang berlawanan, misalnya bagus dan jelek, tulus dan tidak tulus. Skala ini sangat pas untuk mengukur kredibilitas influencer atau iklim komunikasi.

Skala Thurstone lebih rumit karena melibatkan panel ahli seratus sampai dua ratus orang untuk menilai derajat intensitas pernyataan dari skala satu sampai sepuluh. Item yang jawabannya ekstrem akan dibuang, menyisakan sekitar dua puluh pertanyaan terbaik.

Skala Guttman adalah skala kumulatif dengan jawaban tegas ya atau tidak. Jika responden setuju pada pertanyaan yang lebih sulit, otomatis dia setuju pada pertanyaan yang lebih mudah.

Keempat, uji coba instrumen berupa validitas dan reliabilitas. Sebelum kuesioner disebar ke ratusan orang, peneliti wajib melakukan pre test ke tiga puluh responden. Ini adalah proses quality control.

Uji reliabilitas mengukur konsistensi alat ukur. Jika diuji berulang kali, hasilnya harus sama. Indikator bakunya adalah nilai Cronbach's Alpha di atas nol koma tujuh puluh.

Uji validitas mengukur akurasi. Apakah kuesioner kita benar benar mengukur apa yang ingin diukur. Ada beberapa tingkatan validitas, mulai dari face validity, content validity, criterion validity, hingga construct validity yang mencakup convergent dan discriminant validity.

Kelima, realita di lapangan berupa data cleaning. Meneliti di Indonesia memiliki tantangan tersendiri. Seringkali responden mengisi kuesioner secara serampangan atau tidak konsisten. Misalnya, di pertanyaan positif mereka menjawab sangat setuju, tetapi di pertanyaan negatif yang bermakna berlawanan, mereka juga menjawab sangat setuju karena tidak membaca dengan teliti. Ada juga yang melakukan straight lining, yaitu mengisi angka lima semua.

Oleh karena itu, proses data cleaning sangat krusial. Peneliti harus menyisipkan pertanyaan kontrol, mengeliminasi kuesioner yang cacat, dan melaporkan alur pembersihan sampel secara transparan. Contohnya, lima ratus kuesioner disebar, empat puluh gugur, sehingga jumlah akhir yang layak dianalisis menjadi empat ratus enam puluh.

Menulis penelitian kuantitatif bukan sekadar tentang mengumpulkan angka. Ini adalah seni menerjemahkan fenomena sosial yang rumit, seperti perilaku konsumtif akibat pengaruh media sosial, menjadi variabel yang terukur, skala yang tepat, dan data yang valid. Dalam mata kuliah Quantitative Communication Research Methods, kita belajar bahwa dengan memahami kerangka teori, merumuskan hipotesis yang kuat, serta melakukan pengujian instrumen dan pembersihan data secara disiplin, kita tidak hanya menyelesaikan tugas akademik, tetapi juga menghasilkan pengetahuan yang bisa dipercaya.

Postingan Populer